"Maafkan aku," bisik Winny dengan suara bergetar menahan tangisan yang menyumbat tenggorokannya. "Aku sadar sepenuhnya bahwa aku telah gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Keputusan untuk berpisah jalan ini mungkin memang jalan keluar terbaik dari semuanya. Kamu dan Ruay berhak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih tenang dan bahagia di luar sana." Satang meraih pena bertinta emas yang tergeletak pasrah di samping kertas draf perceraian. Tangannya masih gemetar hebat saat ia membuka tutup pena mahal tersebut secara perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam mencoba mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya malam ini. Ujung tajam pena itu akhirnya menyentuh perlahan kolom tanda tangan di atas kertas putih. Langkah kaki berukuran kecil terdengar sangat pelan dari arah tangga kayu di lantai dua. Suara gesekan lembut kaus kaki anak-anak itu memecah ketegangan pekat di ruang tengah. Winny dan Satang serentak menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara tersebut. Di anak tangga terbawah berdiri Ruay mengenakan setelan piyama beruang kesayangannya.
More details