Kneel To You

Kneel To You

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 23, 2026
Navinera Nathaniella adalah seorang wanita berusaha 28 tahun yang merasa dirinya agak berbeda dengan wanita lain seumurannya. Ia mempunyai dorongan seksual yang besar dan tak pernah padam sedari dulu. Baginya, menaklukan pria di kasur adalah kebanggaan terbesar. Melihat wajah pria yang terengah-engah dibawahnya dan memohon menyebut namanya selalu menjadi bahan bakar gairah wanita cantik itu. Seperti dorongan dopamin yang tak pernah surut, Navinera selalu mencari kebahagiaan itu dari satu pria ke pria lainnya. Namun kali ini pesonanya tidak berlaku pada Killian Vincentius Lee, Pria dingin yang tidak pernah takluk akan pesonanya. Justru pria itu selalu menolak dan menghindari Navin, menganggapnya seperti serangga tak berharga. Sehingga pada akhirnya, wanita itu yang jatuh bersimpuh di hadapan Killian, memohon untuk mencintai dan memilikinya seutuhnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • GANGGU | Garis Tunggu✔️
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Hope Not - Reborn
  • The Villain Mother
  • HAUNTED
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Almost Married (END)
  • After Days 364

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines