Berjalan menembus badai pasir perbatasan Suna dengan pakaian miko yang kusut dan kotor, Aruta mengira jiwanya sudah lama mati di dalam sel bawah tanah ROOT. Setiap kali ia memejamkan mata, jeritan keluarganya yang dipenggal sepuluh tahun lalu selalu bergema.
Tapi, takdir mempertemukannya dengan Naruto Uzumaki di atas tanah Konoha yang rata akibat serangan Pain. Di saat Aru menangis meratapi trauma masa lalunya yang mendadak bangkit melihat desa yang hancur, anak laki-laki itu tidak takut pada aura mistisnya. Naruto justru berjongkok, tersenyum lebar, dan mengulurkan tangan yang kotor.
Sejak detik itu, Naruto adalah dunianya. Bagi Aru, seluruh shinobi di Konoha boleh menganggapnya monster pelarian atau barang gagal, Kakashi-sensei boleh terus didera rasa bersalah seumur hidup, tapi jika ada yang berani menyentuh Naruto, Aru tidak akan ragu memutarbalikkan waktu untuk menyiksa mereka.
Termasuk Danzo Shimura, sang tiran yang harus merasakan tubuhnya ditebas ratusan kali oleh Sasuke Uchiha di dalam dimensi waktu mundur ciptaan Aru di Negara Besi.
Dari reruntuhan masa lalu menuju ambang Perang Dunia Shinobi Keempat, inilah kisah tentang sang gadis kuil yang menaruh seluruh sisa hidupnya di bawah senyuman seorang Jinchuriki.
All Rights Reserved