Puisi Sedih

Puisi Sedih

Season 2 of 3
  • WpView
    Reads 249
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 61
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
Sweet Decay adalah sebuah kumpulan atau antologi puisi karya D. Pratma yang berkisah tentang perjalanan hidup yang perlahan membusuk. Walaupun kenangan manis masih tetap berada di sisinya, ia terus dikelilingi oleh keburukan yang tak pernah pergi. Ia ingin mati perlahan tanpa ada yang menyadari, menjadikan rapuhnya hidup serta jatuhnya harapan sebagai komitmen dan moto hidupnya. Sweet Decay menggambarkan pahit dan kejamnya dunia, ketika semua yang dimiliki dirampas oleh kerasnya kehidupan, meninggalkan luka yang tak sempat terobati. Antologi ini hadir sebagai jenis puisi yang berbeda dari kebanyakan karya lainnya. Dengan kejujuran yang tidak ditutupi oleh kata-kata indah, puisi-puisi di dalamnya dipenuhi luka, rasa sakit, dan kegetiran yang nyata. Kata-katanya mungkin tidak selalu terdengar manis, tetapi menyimpan keindahan dalam perih yang jujur-menggambarkan betapa gelapnya hati sang pencipta karya.
All Rights Reserved
#2
katakata
WpChevronRight
Series

Kaysa

  • Puisi Sedih/Lirih
    Season 1
    62 parts
  • Season 2
    61 parts
  • Tuhan, hamba mu ini pelacur
    Season 3
    56 parts
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • Kyara And Someone She Meet Online
  • Dua Pilihan(Deva Kiara)
  • Cerita Seks Dewasa Desahan Dahsyat Anak Rantau -
  • merry a rich men || QIUXING
  • π‘³π’Šπ’“π’Šπ’Œ π‘³π’‚π’ˆπ’– : 𝐢𝑂𝑅𝑇𝐼𝑆 ε·›Λ’β±βΏαΆœα΅‰β‚‚β‚€β‚‚β‚…
  • Cerita Seks Bapak Kos Mesum Menggerayangi Tubuh Montok Mona
  • You Were Never Made for Me
  • π‘³π’Šπ’“π’Šπ’Œ π‘³π’‚π’ˆπ’– : πΈπ‘π»π‘Œπ‘ƒπΈπ‘ ε·›Λ’β±βΏαΆœα΅‰β‚‚β‚€β‚‚β‚€
  • Rajkumari Sharvani {Ending}

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR Β©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines