knitted in silence

knitted in silence

  • WpView
    Membaca 2
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mei 31, 2026
Naurelia Seraphine Adeline, siswi SMK desain berusia tujuh belas tahun yang pindah ke Bandung dan tinggal bersama sepupu jauhnya, Altaf Arvena Jibran Mahzan-pria yang diam-diam sudah ia kagumi sejak lama. Datang dengan harapan untuk membuat Altaf melihatnya sebagai perempuan, bukan anak kecil, Aurel justru dihadapkan pada sosok Altaf yang dingin, tenang, dan terlalu pandai menjaga batas. Di tengah dunia jahit, desain, dan mimpi yang perlahan mempertemukan mereka, tumbuh perasaan yang tak pernah benar-benar diucapkan. Namun semakin dekat hubungan mereka, semakin besar pula jarak yang seharusnya tidak dilewati. Hingga pada akhirnya, mereka harus memilih-tetap merajut semuanya dalam diam, atau mengakui perasaan yang sejak awal sudah ada.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#878
fashion
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan