TERJANG TERATAI BIRU (LENGKAP)
Di balik kokohnya Mako Brimob Kelapa Dua, Ipda Agna berdiri sebagai salah satu Personel Brimob dengan lencana Teratai Biru di dada sebuah amanah yang beratnya menembus langit. Baginya, menjadi personel Brimob bukan sekadar profesi, tapi sumpah hidup dan mati. Di asrama, ia dikenal sebagai sosok tangguh yang gaul dan penuh canda, jago mencairkan suasana tegangnya kehidupan di asrama.
Terlahir sebagai putra seorang Petinggi Brimob dan ibunya seorang pengusaha butik sekaligus Dokpol, hidup Agna sebenarnya sudah terjamin. Tapi ia memilih jalan keras, membuktikan bahwa dirinya layak menyandang seragam itu tanpa bayang-bayang privilege keluarga.
Hingga hadir Adiba dalam hidupnya.
Adiba, perempuan sederhana. Hidupnya jauh dari kata mudah ia perempuan pekerja keras dengan keluarga yang lebih sering menuntut daripada mendukung. Lingkungan keras membentuknya jadi pribadi yang sedikit cuek dan skeptis, terutama pada pria seperti Agna yang terlihat lahir dari dunia serba cukup. Perbedaan status di antara mereka terasa seperti bumi dan langit. Adiba merasa tak pantas, sementara Agna justru jatuh hati pada keteguhan dan iman yang diam-diam ia kagumi dari perempuan itu.
ujian sesungguhnya datang. Surat Perintah Tugas menempatkan Agna dalam Satgas Damai Cartenz di Pegunungan Bintang Papua. Satu tahun atau mungkin lebih ia harus menghadapi hutan belantara dan ancaman peluru dari segala arah. Di tengah baku tembak diselimuti kabut tipis, Agna harus memimpin rekan-rekannya yang tersisa untuk bertahan.
Di titik paling genting, ketika maut terasa begitu dekat, satu nama yang terus ia bisikkan dalam doa
Ya Allah, jika maut harus menjemput di sini, biarkan hamba pulang dalam keadaan husnulkhatimah. Namun jika Engkau izinkan, biarkan hamba kembali untuk melengkapi separuh agama hamba bersama Adiba."
Sebab bagi Agna, cinta dan pengabdian sama-sama menuntut keberanian. Dan tak semua pejuang pulang dengan utuh sebagian pulang hanya sebagai nama yang abadi.