Ezhar Careem telah hidup selama dua puluh lima tahun tanpa benar-benar memahami apa itu emosi.
Sejak kecil, ia tumbuh di rumah yang dipenuhi pertengkaran. Perceraian orang tuanya dan kepergian sang ibu perlahan membangun dinding sunyi di dalam dirinya. Sedikit demi sedikit, Ezhar belajar mematikan rasa-berhenti menangis, berhenti berharap, berhenti peduli. Hingga akhirnya ia menjalani hidup seperti bayangan manusia: bekerja, berjalan, berbicara, tanpa pernah benar-benar merasakan apa pun.
Kini ia bekerja sebagai staf lapangan di sebuah perusahaan perfilman, tempat ia setiap hari menyaksikan orang-orang berpura-pura menangis, tertawa, marah, dan jatuh cinta di depan kamera. Baginya, emosi hanyalah adegan yang dipelajari manusia agar terlihat hidup.
Namun semuanya mulai berubah ketika ia bertemu Quena Aurora, seorang aktris terkenal dengan kemampuan akting yang begitu nyata hingga membuat Ezhar mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Di balik sorot kamera dan senyum sempurnanya, Quena ternyata menyimpan kesepian yang tidak jauh berbeda darinya.
Pertemuan-pertemuan kecil yang seharusnya biasa perlahan mengusik dunia sunyi Ezhar. Untuk pertama kalinya, dadanya mulai dipenuhi sesuatu yang tidak mampu ia pahami. Sebuah perasaan asing yang membuatnya takut, bingung, sekaligus ingin terus mendekat.
Di antara hujan, kesunyian kota, dan lembaran-lembaran novel yang tak pernah selesai ia tulis, Ezhar mulai mencari jawaban atas satu pertanyaan yang selama ini mengganggunya:
Jika seseorang tidak mampu merasakan emosi, apakah ia masih pantas disebut manusia?
Sebuah novel melankolis tentang kehilangan, keterasingan, dan perjalanan seorang pria untuk belajar menjadi manusia melalui cinta yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
All Rights Reserved