Between Desire and Love

Between Desire and Love

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 30, 2026
Nathaniel Ravendra selalu terlihat memiliki segalanya prestasi, koneksi, dan masa depan yang menjanjikan. Namun di balik kesibukannya sebagai mahasiswa International Relations di universitas elit, ia menyimpan kesepian yang tak pernah benar-benar hilang. Kesempatan magang di Jepang menjadi awal baru yang tidak pernah ia rencanakan. Di sana, ia kembali bertemu dengan Mhasiswi yang cantik, elegan, dan berasal dari keluarga berpengaruh. Apa yang dimulai sebagai kebetulan perlahan berubah menjadi kedekatan yang sulit dijelaskan. Tinggal di bawah atap yang sama, bekerja di lingkungan yang sama, dan menjalani kehidupan baru di negara asing membuat mereka semakin mengenal satu sama lain. Namun di dunia yang dipenuhi ambisi, kekuasaan, dan hasrat, tidak semua perasaan mudah dipahami. Karena terkadang, seseorang datang bukan untuk mengubah rencana hidupmu. Melainkan untuk mengubah dirimu sepenuhnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines