Rana Yang Menghitung Mundur -AraLev
Bagi Aralie, kamera analog tuanya adalah alat untuk mengabadikan dunia. Bagi Vian, tubuhnya yang perlahan digerogoti kelumpuhan adalah jam pasir yang sedang menghitung mundur menuju kekalahan.
Di bawah pendar senja taman kampus, sebuah siluet dingin bertongkat besi tak sengaja tertangkap oleh lensa Aralie. Pertemuan itu melahirkan sebuah kesepakatan gila di antara dua manusia yang sama-sama di ambang batas keputusasaan: menghabiskan satu rol film terakhir berisi 20 slot jepretan sebelum fungsi motorik Vian hilang sepenuhnya.
Setiap kali bunyi rana kamera terdengar, satu memori abadi tercipta, namun satu detik kebersamaan mereka juga ikut menguap.
Ini bukan sekadar tentang menyelesaikan tugas akhir fotografi Aralie. Ini tentang sebuah pembuktian kepada dunia; bahwa sebelum waktu benar-benar habis, Vian pernah berjuang untuk hidup... dan Aralie pernah mencintainya dengan begitu hebat.
"Gua gak ilang, Lie. Gua cuma abadi di dalam kamera lu."