KACANG POLONG

KACANG POLONG

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, May 26, 2026
Seringkali menghilang adalah jalan paling ampuh untuk melupakan. Siapa sangka saat waktunya usai ternyata semesta lebih tahu kapan waktunya kita untuk kembali. Begitulah cara kerja takdir yang sudah tertulis untukku Ambar Sachi dan Saga Esoma. Perlahan saat mencoba memulai hidup yang baru, membuatku justru kembali meraih puing-puing masalalu. Mencoba menata hidup di tengah hiruk pikuk nya kota membuat diriku semakin terjebak. Akankah takdir saat ini membawaku ke dalam kebahagiaan yang di impikan selama ini?. Atau justru takdir membuka jalan untukku merasakan jatuh dan terperangkap kedalam kecewa yang sama?. Perjalanan hidup sepasang hati yang memilih tidak terpasang. Rasanya lebih menakutkan untuk menoleh saat di sekitarku memanggilku Ercis. Nama panggilan ini yang membuatku harus hujan-hujanan dan basah kuyup saat mencari sisa jejak Saga Esoma. Saga Esoma lebih tau kenapa nama Ercis ini melekat pada diriku. Panggilan Ercis itu cukup membuatku meneteskan air garam, disaat orang yang memberikanmu harapan untuk hidup jauh lebih baik justru menghilang tanpa jejak.
All Rights Reserved
#539
kembali
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines