papa Kreesha

papa Kreesha

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 17, 2026
" PAPA" triak seorang anak laki laki di tengah-tengah banyak nya orang-orang tawuran ada banyak senjata tajam dan juga pistol. Laki laki yang sedang menahan pukulan dari lawan laki laki itu di tujukan dengan ada nya seorang anak kecil laki laki, sedang menatap nya, ya laki laki yang sedang melihat anak kecil itu adalah seorang ketua yaitu seorang Arkalan Satya Jonatthan, melihat anak kecil itu dalam bahaya ia segera menjatuhkan lawan nya dan berlari menggendong anak laki laki itu namun ia lengah dikit punggung nya di pukul pakai kayu balok, dan ia langsung menendang peruk pria itu sampai terlempar jauh. " kamu gak apa apa" tanya Arkalan pada anak kecil yang ada di gendongan nya namun bukan nya menjawab anak itu hanya diam menatap wajah Arkalan saja. Dirasa lawan musuh nya sudah tumbang semua Arkalan dan temen temen nya segera menjauh dari mereka karna bagaimana pun ada anak kecil di gendong an nya. " PAPA " ucap anak kecil itu pada Arkalan sambil menatap wajah Arkalan, temen temen Arkalan pun semuanya pada binggung . " lo udah punya anak boss kapan nikahnya ? " ucap shaka pada Arkalan yang sedang menurunkan anak kecil itu. " bukan anak gue " " KREES " triak seorang wanita. Btw siapa kah wanita itu dan apa hubungannya dengan Arkalan? .
All Rights Reserved
#133
2026
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines