Tentang seorang perempuan yang pernah menganggap seseorang sebagai rumah... sebelum akhirnya sadar bahwa dirinya hanya tamu.
Ada jenis luka yang tidak berdarah, tapi rasanya jauh lebih perih daripada luka apa pun. Luka itu bernama kenangan. Dan ada rasa sakit yang tidak datang dari pukulan, melainkan dari kesadaran pahit: bahwa tempat yang selama ini kau anggap rumah, ternyata tidak pernah benar-benar milikmu. Kau hanya tamu yang diizinkan singgah sebentar, sebelum akhirnya harus diusir atau pergi sendiri dengan hati yang remuk.
Namaku Lili. Dan ini adalah kisah tentang bagaimana aku jatuh cinta pada sebuah rumah, dan hancur saat menyadari bahwa aku tidak pernah memiliki kuncinya. Bahwa aku hanya orang asing yang beruntung diizinkan duduk di beranda, menikmati hangatnya cahaya lampu, sebelum akhirnya malam datang dan pintu ditutup rapat di depan wajahku.
Aku mengenal Muhammad Alcaro di saat hidupku sedang berada di titik terendah. Saat dunia seolah berbalik arah, saat semua orang yang kupercaya pergi satu per satu, saat aku merasa tidak ada lagi tempat untukku di bumi ini. Saat itulah ia datang. Bukan dengan janji manis atau kata-kata indah, melainkan dengan kehadiran tenang yang membuatku berpikir: Ah, mungkin di sini aku bisa beristirahat sejenak.
Tapi aku lupa, tamu tetaplah tamu. Seindah apa pun sambutannya, sehangat apa pun perlakuan tuan rumah, pada akhirnya ia harus pulang. Dan aku, Lili, adalah tamu yang terlalu lama tinggal, terlalu nyaman, dan akhirnya lupa diri. Hingga ketika harus pergi, aku membawa luka yang tidak akan pernah sembuh seumur hidupku.
All Rights Reserved