HAK MILIK (On Going)

HAK MILIK (On Going)

  • WpView
    Membaca 13
  • WpVote
    Vote 6
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadDewasaLengkap Min, Mei 31, 2026
WpInfo
Fiksi
Romansa
Mafia
Romansa Gelap
Perguruan Tinggi dan Universitas
"Kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu? Jadi, tolong jangan bikin aku ngelakuin hal-hal yang bakal bikin kamu benci sama aku." Ucap Laki-laki itu sambil memegang Tangan wanita yang sudah dia ikat di atas kasurnya. Dia adalah ​Devanandra Mackenzie Laki-laki dengan Tampang dingin namun Penyayang walapun sedikit gila ..bukan sedikit sihh. "lu pikir dengan lu ngelakuin ini gw bakal cinta sama lu? Bukan cuman Benci...gw juga jijik sama lu" Teriak Keinna Grethania. "Aku cuman mau jagain kamu dari orang-orang jahatt" Katanya sedih dengan tatapan berkaca-kaca. Bukannya bersimpati Keinna malah meludahi muka Devan. Devan tersenyum dan menjilati Air liur yang menetes di wajahnya. Ia mencengkeram rahang gadis itu dengan lembut namun tegas, memaksa wajah itu mendongak. Tanpa peringatan, ia menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dominan, seolah sedang menegaskan tanda kepemilikan mutlak.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • Círculo del Destino
  • Mulih (END)
  • The Last Yes!
  • EINSTEIN [END]
  • Sweetly Tied
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • DOMINEX | The Crime Lock

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan