Garda Nawesa

Garda Nawesa

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadComplete Sat, Jul 4, 2026
Garda Nawesa bukan definisi cowok baik-baik. Dia adalah definisi masalah yang dibungkus jaket kulit dan deru mesin motor." Bagi Anya, hidupnya sudah teratur rapi: sekolah, belajar, dan berusaha lulus dengan tenang. Namun, semua itu hancur saat Garda Nawesa cowok yang namanya selalu jadi topik utama di ruang BK mulai melanggar setiap aturan yang Anya buat. Bukan karena cinta, bukan karena takdir. Garda hadir hanya untuk satu alasan: membuat hidup Anya yang tenang menjadi sebising jalanan kota saat malam hari. "Lo pikir lo bisa tenang, Ya? Dunia gue gak kenal kata tenang. Dan sekarang, dunia lo punya gue."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • BL HUSSBAN POSESIF (GEMINIFOUR)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Bad Boy

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines