Bangku nomer 13

Bangku nomer 13

  • WpView
    Membaca 12
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Mei 29, 2026
Athar tidak pernah benar-benar memperhatikan nesya selama hampir satu tahun sekelas. Mereka hanya dua orang asing yang kebetulan berada di ruangan yang sama setiap hari-sampai sebuah kejadian kecil saat jam pelajaran matematika membuat mereka mulai saling mengenal. -fiction -romcom JANGAN DI BAWA KE REAL LIFE, FOTO DARI TOKOH-TOKOH TERSEBUT HANYA SEBAGAI VISUAL NYA SAJA. Selamat membaca!!
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#110
yuha
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan