Antara Kasihan dan Cinta (END)

Antara Kasihan dan Cinta (END)

  • WpView
    Reads 380
  • WpVote
    Votes 112
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadComplete Thu, Jun 4, 2026
Laura adalah mahasiswi yang hampir semua orang kenal. Cantik, terkenal, dan selalu dikelilingi banyak orang. Tapi tidak semua orang bisa mendekatinya. Lalu ada Andra. Mahasiswa biasa yang lucu, terlalu tulus, terlalu berharap, dan entah kenapa nekat melakukan sesuatu yang mengubah hidupnya. Awalnya semua terasa seperti keberuntungan. Setidaknya begitu yang ia pikirkan. Sampai perlahan ia menyadari bahwa tidak semua senyuman berarti perasaan, dan tidak semua orang yang terlihat dekat benar-benar menjadi tempat pulang. Di antara rasa kasihan, perhatian kecil, dan perasaan yang datang terlalu lambat... Mungkinkah hati memilih orang yang salah? Atau justru selama ini jawabannya sudah ada di dekatnya? Antara Kasihan dan Cinta BY TheHiThor
All Rights Reserved
#162
secondlead
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines