"Bagaimana rasanya menjadi hantu yang tak kasat mata di rumah orang tua kandungmu sendiri?"
Bagi Ninda, pulang ke Jakarta bukan berarti kembali ke pelukan ibu, melainkan memulai sebuah perjuangan bertahan hidup yang sunyi. Targetnya hanya satu: ia harus sehat, mencari uang dari keringatnya sendiri, dan secepatnya angkat kaki untuk membangun kehidupan mandiri yang merdeka. Kebebasan ini adalah segalanya bagi Ninda, karena bertahan lebih lama di bawah atap yang dingin itu perlahan-lapis demi lapis akan membunuh kesehatan mental dan harga dirinya yang terus diinjak-injak oleh penolakan.
Namun, meraih pintu keluar tidak pernah mudah. Ibu kandungnya sendiri, Ibu Naning, menjadi tembok penghalang terbesar dengan tatapan iri, sikap pilih kasih yang ekstrem, hingga sabotase mental yang meruntuhkan impian Ninda. Ditambah lagi, hantaman penyakit akut yang nyaris merenggut paksa sisa-sisa tenaga di tubuh mungilnya.
Jika Ninda menyerah dan gagal berdiri di atas kakinya sendiri, ia akan selamanya terjebak menjadi "penyewa kamar kos" yang terasing, terkubur dalam kesunyian, dan membiarkan masa depannya layu sebelum sempat berkembang di bawah kendali ego sang ibu.
Informasi Tambahan
Tropes/Tema: Family Dysfunction, Coming of Age, Solo Survival, Emotional Healing, Resilience.
Peringatan Konten (Content Warning): Cerita ini mengandung unsur pengabaian emosional (emotional neglect), ketidakadilan domestik, dan perjuangan melawan penyakit yang mungkin memicu simpati mendalam bagi sebagian pembaca.
All Rights Reserved