"Dimana ini?" Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya untuk menemukan kegelapan.
Disaat aku bingung, sebuah mata sebesar gunung muncul dari kegelapan. Mata itu berbicara, "Garis waktumu telah menemui ujung tebingnya. Salah langkah, kau akan terhapus sepenuhnya."
Suara berat bergema, menyebabkan seluruh tubuhku bergetar hebat. "Semoga tirai takdirmu terkunci di fajar ini, dan lingkaran itu akhirnya menjadi garis lurus yang damai."
"Tapi, tidak ada yang gratis. Untuk membuatnya berubah, ada harga yang harus dibayar."
Setelah bebas dari tekanan yang mencekik, aku mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. "Aku... tidak mengerti."
"Tukarkan waktu yang kamu punya padaku. Dengan begitu, aku akan membantu-mu mengubah tulisan tangan dewa."
"Jika tidak?"
Mata itu menatapku lebih dalam, lalu kembali bersuara, "Maka... jam pasir akan berputar untuk keseratus kalinya. Ingatlah, ini pertama dan terakhir kalinya aku membantu. Kau tidak bisa meminta lebih dari ini."
"Aku tidak mengerti"
"Anakku... seekor singa akan menjadi raja, tapi anak singa hanya akan menjadi mangsa. Sebaiknya sembunyikan taringmu hingga waktunya tiba. Aku akan mengawasimu dari sini."
Seolah diseret paksa, tubuhku terjatuh ke dalam jurang tak berdasar.
"HAH!" Aku membuka mataku lebar-lebar.
Kuedarkan mataku ke segala penjuru untuk melihat pemandangan asing didepan mataku. "Ini...?"
Sebuah kamar dengan dekorasi antik. Siluetnya yang sederhana namun elegan membuatku tertarik. Namun, mimpi menyeramkan itu membuat kepalaku berdenyut hebat. "Aaw..."
Brakkk. Pintu terbuka dengan keras.
"Apakah Anda sudah sadar?!" Tepat pada saat itu, beberapa orang mendekat.
"Siapa kalian?" tanyaku linglung.
Suasana mendadak hening.
"Astaga... ini pasti karena kepalamu terbentur ketika jatuh dari kuda. Akan kupanggil dokter!"
"Hora, apa kamu baik-baik saja, Nak?"
Apa? Apa yang mereka bicarakan-
Mendapati pantulan wajahku di cermin besar di sudut kamar. Mataku membelalak.
"Ini... bukan aku."
Aku... aku siapa?
All Rights Reserved