Masih Bocah

Masih Bocah

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 15, 2026
Sepuluh tahun yang lalu.... "Kak Mora, ayo jadi pacar Jiji!" "Nggak bisa. Kamu tuh masih bocah bau dot susu, Jino!" "Kalo gitu nanti pas Jiji udah gede dan gak bau dot susu lagi, Kak Mora mau jadi pacar Jiji?" "Tetep nggak bisa. Lagian ngapain sih kamu suka sama cewek kayak aku yang lebih tua 10 tahun dari kamu?" "Soalnya Kak Mora mirip sama princess di buku dongeng Jiji yang sering dibacain Bunda! Jiji mau jadi ksatria yang melindungi princess!" "Yaudah cari cewek seumuran kamu sana yang mau dijadiin princess princess-an." "Nggak mau. Jiji maunya Kak Mora." Lalu beberapa tahun kemudian, tepatnya saat ini.... "Kak Mora, sekarang gue udah gede dan gak bau dot susu lagi. Berarti mau ya jadi pacar gue hari ini?" "NGGAK. DI MATA AKU, KAMU TUH MASIH BOCAH!" [ ] Semua kekacauan itu berawal dari Mora yang nekat merantau sendirian ke pusat kota untuk berkuliah di universitas top setelah dirinya lulus SMA pada usia 18 tahun. Kala itu, ia bertemu dengan seorang bocah laki-laki bernama Jino yang tinggal di sebelah rumah barunya, mengisi hari-hari Mora selama berada di sana, dan sukses bikin tensi Mora naik turun setiap menghadapi segala kenakalan Jino yang melebihi bocah badung di kampungnya. Namun, terlepas dari sifat nakalnya yang bikin urat Mora mau putus, ada kalanya Jino mencuri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya yang tiba-tiba bilang suka pada Mora. Gilanya lagi, dia mengajak Mora pacaran; yang notabene sepuluh tahun lebih tua dari bocah bau dot susu itu! Bertahun-tahun setelahnya ketika Mora menginjak usia 28 tahun dan Jino memasuki usia remaja, dia mengulang kembali pengakuan cintanya yang sama persis seperti versi masa kecil. Katanya, perasaannya pada Mora masih utuh seperti awal. Tapi sayangnya, mau seserius apapun niatnya, sosok Jino di mata Mora tetaplah masih bocah ingusan yang dulu suka ngompol setiap tidur! Haruskah kali ini Mora berikan peluang pada Jino untuk mendapatkan hatinya? [ ] © 2026 a story written by sayulaja
All Rights Reserved
#663
love
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines