Bagi Aris (25), hidup adalah barisan angka yang kaku. Sebagai staf administrasi dengan jam kerja 9-5, dunianya hanya berputar antara kubikel kantor yang sempit, kopi instan yang mulai mendingin, dan panggilan video malam hari dengan Maya (29), pacarnya yang terpaut jarak Kota A ke Kota B. Maya adalah satu-satunya variabel tetap dalam hidup Aris yang membosankan, sosok dewasa yang selalu berhasil menenangkan isi kepala Aris yang terlalu analitis.
Namun, segalanya berubah saat sebuah anomali terjadi tepat pukul 14:00 di kantornya.
Aris mulai melihat "jejak" dirinya sendiri. Di pantulan kaca, dia melihat dirinya sedang bekerja di meja yang sama, namun mengenakan kemeja yang berbeda. Di layar komputer, dia menerima email balasan untuk pertanyaan yang bahkan belum sempat dia ketik. Mengandalkan logikanya yang selalu butuh penjelasan rasional untuk segala hal, Aris menyadari bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Garis waktu masa lalu, sekarang, dan masa depan di sekitarnya mulai mengalami dekoherensi-semuanya terjadi sekaligus dalam satu ruang.
Saat fenomena kuantum ini mulai menariknya keluar dari realitas, Aris menemukan fakta pahit: setiap detik "tambahan" yang dia ambil dari masa lalu untuk menyelesaikan pekerjaannya, atau setiap intipan ke masa depan untuk memastikan hubungannya dengan Maya baik-baik saja, menciptakan retakan pada eksistensinya.
Terjebak di antara keinginan untuk memperbaiki hidup yang medioker dan ketakutan akan kehilangan Maya di lini masa yang nyata, Aris harus memutuskan. Apakah dia akan terus memanipulasi probabilitas demi kebahagiaan semu, atau membiarkan waktu berjalan linear meski itu berarti dia harus tetap menjadi orang biasa yang merindu di balik meja kantor?
Di dunia kuantum, semua kemungkinan itu ada. Tapi bagi Aris, hanya ada satu kemungkinan di mana Maya tetap mengingat namanya.
All Rights Reserved