The Obsession Behind Revenge (Segera Terbit )

The Obsession Behind Revenge (Segera Terbit )

  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jun 4, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Dark Romance
Bad Boy
Mafia
Algra Khenzio Argantara: "Setiap detak jantung lo adalah bagian dari rencana gue. Dan dalam rencana ini, perpisahan hanyalah sebuah kemustahilan." *^_^* Bagi Alegra, menjalin hubungan dengan pria asing melalui aplikasi percakapan adalah satu-satunya pelarian dari hidup yang penuh siksaan. Pria itu adalah dunianya-tempat ia menitipkan tawa, rahasia, dan cinta yang ia anggap sebagai penyelamat. ​Namun, cinta itu berubah menjadi teror mengerikan saat topeng sang pria terbuka. ​Dia bukan sekadar kekasih virtual. Dia adalah Algra Khenzio Argantara. Sosok iblis berwujud manusia yang memiliki kekejaman tak terbatas. Sadar bahwa dirinya hanya menjadi objek obsesi yang melampaui logika, Alegra memutuskan untuk memutus rantai itu dan menghilang sejauh mungkin.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Caged Whispers
  • Criminal
  • Forever with Him ✓
  • De Lucchi Obsession (End)
  • MAHADEVA - A War Between Us
  • BLACK ROSE
  • Tuan Rumah di Kamar Sebelah
  • Prison in Prada
  • Gonna Be Yours✔
  • ARMITAGE [ END ]

"Lepaskan aku..." suara Alice bergetar, tangannya meronta sekuat tenaga dari cengkeraman yang terlalu dingin, terlalu kuat. Nafasnya memburu, seolah udara di sekitarnya menolak untuk masuk ke paru-paru. Namun Van tidak bergeming. Satu tangannya menahan pergelangan Alice, tangan satunya terulur ke wajahnya. Ujung jarinya kasar, dingin, saat ia mengangkat dagu Alice dengan paksa. "Mengapa kau selalu mencoba lari dariku?" bisiknya pelan, nyaris lembut, tapi mengandung ancaman yang menusuk tulang. Alice memejamkan mata, menolak menatap. Namun cengkeraman itu semakin menekan, membuatnya tak punya pilihan selain menatap ke dalam sepasang mata gelap yang menelannya bulat-bulat. "Bukalah matamu," perintah Van lirih, seakan mantra. "Aku ingin kau lihat sendiri... bahwa satu-satunya tempatmu hanyalah di sisiku." Air mata Alice jatuh. Dalam diam, ia tahu, protesnya tidak berarti apa-apa. Sebab pria itu bukan sekadar ingin memilikinya, ia ingin menghapus seluruh dunia Alice, hingga yang tersisa hanyalah dirinya. Dan pada malam itu, ia sadar : kebebasan hanyalah mimpi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines