Di tengah teriknya matahari musim panas yang menyengat, hidup Candra justru terasa dingin dan beku, seolah diselimuti badai salju yang tak pernah berhenti. Pria itu membawa beban berat: penyakit asam lambung yang kambuh tiba-tiba dan gangguan irama jantung yang membuat napasnya sering tercekat. Kondisi fisik yang rapuh itu membentuk kepribadiannya yang tertutup, dingin, pendiam, dan mudah meledak amarahnya. Bagi Candra, dunia hanyalah tempat yang keras dan menyakitkan, sehingga ia memilih membangun tembok tinggi agar tak ada seorang pun yang bisa mendekat atau menyakiti dirinya lebih jauh.
Segalanya berubah saat Alina hadir di hidupnya. Berbeda jauh dengan Candra, Alina adalah sosok yang hangat, rendah hati, dan selalu ceria, seolah membawa sinar matahari ke mana pun ia pergi. Ia tidak gentar menghadapi sikap Candra yang tajam dan tertutup. Dengan kesabaran yang luar biasa, Alina perlahan masuk ke dalam ruang hidup Candra, memahami setiap rasa sakit yang ia rasakan, serta membantu menjaga pola makan dan istirahatnya agar penyakit-penyakit itu tak lagi menguasai dirinya.
Perlahan namun pasti, kehadiran Alina mulai mencairkan dinginnya hati Candra. Di balik sifat pemarahnya, tersembunyi rasa takut akan kehilangan dan rasa sakit yang mendalam. Alina mengajarkan bahwa tidak ada salahnya bergantung pada orang lain dan berbagi beban. Di tengah musim panas yang membara, di antara pertengkaran dan perhatian yang tulus, badai salju yang selama ini membekukan hati Candra perlahan menghilang, digantikan oleh rasa nyaman dan kasih sayang yang tumbuh di antara mereka berdua.
All Rights Reserved