Sorry not Sorry, President!

Sorry not Sorry, President!

  • WpView
    Reads 53
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 6, 2026
"Gak capek dihukum terus?" - Arjuna Sanjaya "Lah, lo gak capek ngehukum bibir gue terus?" - Arjingga Elhandra Semua berawal dari kepindahan Jingga ke sekolah barunya. Menurut jingga awalnya mungkin akan baik-baik saja, dia seorang extrovert di sekolahnya dulu pasti mudah saja mendapatkan teman disini, yah... Awalnya dia mengira seperti itu. Namun sialnya, disekolah ini memiliki Ketua osis yang tak kenal kata ampun. Ya dia Arjuna, Jingga terlambat di hukum, ia membuat onar otw bk, tapi ketika jingga mulai mencoba melawan perintah arjuna disitulah ia mendapatkan bibir nya yang bengkak seakan disengat lebah besar. Tapi... Kenapa Juna segalak itu cuma ke Jingga? Benci, atau ada maunya? #JunaJingga
All Rights Reserved
#25
schoollife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines