Suatu hari...
Suara knalpot motor Abizar berhenti di depan rumah. Azura keluar dengan wajah datar, langsung memakai helmnya sendiri. "Pagi, Nona Langganan Jalur VVIP! Sesuai instruksi Jenderal Nenek, hari ini kita lewat jalur bebas macet. Siap meluncur?"
Azura naik ke boncengan, membatasi jarak. "Gak usah banyak retorika. Jalan aja. Keburu dosennya masuk."
Abizar mulai ngegas motor. "Siap, Bos! Eh, Ra, lu tahu gak? Tadi pas gue pamit sama nenek lu, beliau bisik-bisik ke gue. Katanya, 'Zeeshan, jagain cucu Nenek ya, dia kalau di motor suka melamun mikirin masa depan'."
Azura memutar bola mata di balik kaca helm. "Nenek gak mungkin ngomong gitu. Jangan ngadi-ngadi."
"Loh, beneran! Terus gue jawab, 'Tenang Nek, masa depannya Azura kan emang lagi megang stang motor ini'."
Azura spontan memukul pundak Abizar pakai gulungan kertas tugas DKV. "Abizar! Fokus nyetir atau gue loncat nih? Bacot muluh kerjaannya."
Abizar malah ketawa kegirangan. "Aduh, dipukul pake cinta, rasanya sampai ke silinder kop mesin! Tapi serius deh, Ra. Nenek lu itu visioner banget ya."
"Visioner apanya? Beliau cuma overprotektif."
"Nggak, beliau itu tahu mana aset terbaik buat cucunya. Nenek yang booking, tapi hati gue yang kesengsem. Cerdas kan taktik marketing nenek lu?"
Faustina Azura Naqila, mahasiswi DKV yang mandiri, terpaksa menuruti aturan super ketat neneknya yang protektif: dilarang menyetir sendiri. Sebagai gantinya, sang nenek menyewa Zeeshan Abizar Sinatra, mahasiswa teknik mesin ITB, untuk menjadi abang Gojek privat langganan Azura. Di balik sikap Abizar yang cerewet, ternyata ia sudah lama mengagumi Azura lewat berita lokal. Akankah dinginnya sikap Azura runtuh oleh kehangatan dan obrolan random Abizar di sepanjang jalanan Cirebon?
All Rights Reserved