We Were Almost Home

We Were Almost Home

  • WpView
    Reads 66
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
Tidak ada hal yang mampu mengalahkan keinginan Amora untuk hidup bebas sebagai manusia yang jauh dari ekspektasi keluarga. Mungkin orang-orang melihat Amora sebagai sosok sempurna, namun banyak sisi gelap Amora yang ia simpan rapat-rapat. Tidak ada yang tahu bagaimana latar belakangnya sebagai gadis rapuh sekalipun itu adalah sahabat seperjuangannya. Namun, Kama berbeda. Ia rumah sekaligus tempatnya menumpahkan seluruh kekesalan dunia. Kama akan menjadi garda terdepan Amora ketika dunia seenaknya memporak-poranda gadis itu. Alih-alih bebas dari cekikan ekspektasi Ibu, Amora malah semakin terjun ke dalam rencana Ibu yang seenak jidat mendaftarkan dirinya les privat kepada satu cowok yang paling dibencinya seumur hidup. Kalandra, satu nama yang diagung-agungkan Ibu dan membuat Amora kembali diingatkan pada sebuah tragedi yang mencekam. Namun, Amora keliru. Sesuatu yang ia sebut paksaan itu perlahan berubah menjadi satu-satunya tempat di mana ia diizinkan untuk berhenti berlari dan bernapas. Sialnya, kedamaian yang baru ia rajut justru menjadi bensin yang menghanguskan garis akhir masa sekolahnya. Ketika kebenaran yang selama ini tersimpan rapat mendadak terbuka, fondasi tempatnya pulang pecah dalam semalam. Di antara waktu yang berjalan mundur menuju perpisahan, mampukah ego yang hancur disatukan kembali, ataukah seragam putih abu-abu ini memang ditakdirkan selesai dalam kecanggungan yang membunuh suasana?
All Rights Reserved
#665
comedy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines