JEDA SINAPSIS GHAZA

JEDA SINAPSIS GHAZA

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 28, 2026
Di balik dahi depan Ghaza, seorang gadis berusia enam belas tahun, sebuah perang siber psikologis sedang berkecamuk tanpa suara. Ketika frekuensi suara bariton milik Uwais menembus satir kain samudra di aula pondok pesantren, seluruh instrumen biologis di dalam kepala Ghaza mendadak mengalami system lag. Jantungnya melompat brutal ke angka 120 bpm, telapak tangannya banjir keringat dingin, dan pipinya merona merah padam seolah terbakar. Si Heboh Amigdala-aplikasi emosi yang baperan di otaknya-menuntut pasokan Wifi Dopamin 6G gratisan yang menipu. Sementara di dahi depannya, PFC (Prefrontal Cortex) yang bertugas sebagai Pilot Utama, berjuang setengah mati menekan tombol force close agar mental Ghaza tidak mengalami system crash. Di tengah badai hormon pubertas yang membingungkan, sebuah teror teka-teki bersandi biner dan bertinta emas mulai menyusup ke saku gamis hingga ke celah bawah pintu kamarnya. Sebuah rumus misterius tertulis: [ΔDopamin ∝ Aroma Kopi Moka / Jarak Tempuh]. Siapakah peretas sistem yang sesungguhnya? Apakah Uwais yang sedang menguji logikanya, ataukah ada skenario besar lain yang sedang mengintai benteng pertahanan kesuciannya? Dari kafe temaram di Mall Puri hingga panggung terbuka kompetisi nasional di Jakarta, Ghaza dipaksa melakukan update software keimanan. Di dunia luar yang bebas tanpa batas satir fisik, Ghaza harus membuktikan bahwa satir internal di dahi depannya jauh lebih kokoh daripada dinding pembatas apa pun. #teenfiction #fiksiremaja #spiritual #pesantren #neuroscience #mystery #slowburn #plottwist
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines