Bagaimana jika separuh jiwamu tertinggal di kehidupan seribu tahun yang lalu?
Galih Atmadiwirya, seorang mahasiswa Fakultas Arkeologi di Yogyakarta, tidak pernah menyangka bahwa lukisan wajah bidadari kuno yang selalu muncul di kanvasnya adalah sosok nyata. Di sudut kota yang sama, Lila, seorang gadis anggun keturunan bangsawan, terus-menerus tersiksa oleh kepingan mimpi ganjil. Ia dihantui oleh aroma wangi bunga kenanga, suara pahatan batu andesit, dan memori tentang seorang pemahat yang tak ia kenali.
Pertemuan tak terduga mereka di perpustakaan kampus perlahan menyibak tabir misteri dari masa lalu. Melalui sebuah salinan Kakawin kuno, terungkaplah kisah kelam pada era pembangunan Candi Borobudur. Di masa itu, cinta rahasia antara Galih, sang pemahat batu, dan Dyah Ayu Candranila, putri bangsawan jelita, harus berakhir tragis. Tragedi berdarah akibat kekejaman gembong begal Ki Sura Wulung merenggut nyawa sang putri sebelum waktunya. Tepat di ujung mautnya di lereng Gunung Sumbing, Dyah Ayu membisikkan sebuah sumpah penantang takdir: "Kita akan bertemu lagi".
Kini, janji suci itu menagih utangnya. Untuk merajut kembali tali merah yang terputus, Galih harus menapaki pusaran magis Gunung Tidar dan menembus batas dimensi ruang dan waktu. Ia harus kembali ke masa lalu demi menumpas angkara murka, melindungi sejarah mahakarya Borobudur, dan menebus nyawa kekasihnya.
Mampukah kekuatan cinta dan kidung suci menyatukan kembali dua suksma yang telah terpisah selama ribuan tahun?
All Rights Reserved