Sejak hari pertama masuk kelas, Naruto Uzumaki sudah sangat yakin bahwa ia membenci Sasuke Uchiha. Bagaimana bisa ia tidak kesal? Semua orang-terutama para gadis-selalu memuji Sasuke yang tampan, dingin, dan menawan. Namun bagi Naruto, Sasuke hanyalah sosok yang terlalu cantik, terlalu feminin, dan sangat menyebalkan. Seharusnya orang orang menyukai sosok maskulin dan keren sepertinya, bukan pemuda berambut hitam yang seolah punya pesona sihir itu. Kebencian Naruto semakin memuncak saat suatu hari, Sasuke dengan santai menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek. Tapi anehnya, di detik itu juga, jantung Naruto berdegup kencang tak karuan, dan satu pertanyaan konyol melintas di kepalanya: Kenapa dia.. terlihat begitu manis? Sejak saat itu, hidup Naruto berubah kacau. Ia berjanji akan terus memusuhi Sasuke, selalu mencari gara-gara, berteriak bahwa ia benci, dan berusaha menjadi yang lebih hebat darinya. Namun, semakin ia berusaha menjauh, semakin kakinya melangkah mendekat. Di sisi lain, Sasuke yang terkenal dingin dan acuh tak acuh, justru seolah menikmati keributan yang dibuat Naruto. Ia tak pernah benar-benar mengusirnya, malah sering memberikan tatapan dan sikap yang membuat Naruto makin bingung setengah mati.
Hubungan mereka berjalan dalam ketegangan yang manis. Dari bangku SMA yang penuh teriakan dan ejekan, hingga berpisah jalan saat masuk ke perguruan tinggi. Jarak yang terbentang justru menyadarkan keduanya satu hal penting: rasa benci itu ternyata hanya kedok. Di balik pertengkaran dan gengsi yang setinggi langit, tersimpan rasa sayang yang tumbuh perlahan, diam-diam, dan jauh lebih dalam dari yang mereka sangka. Butuh waktu bertahun tahun, rindu yang mendalam, dan keberanian besar, hingga akhirnya Naruto sadar satu kebenaran sederhana Sasuke Uchiha bukanlah musuh yang ingin ia kalahkan, melainkan satu satunya orang yang tak pernah ingin ia lepaskan.
Book cover is not mine!
Enemies to lovers ya ges
Terus friends trs udah deh lovers
All Rights Reserved