Quiet Things I Never Said

Quiet Things I Never Said

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 16, 2026
Ada perasaan-perasaan yang hidup terlalu lama dalam diam, hingga akhirnya berubah menjadi ruang sunyi di dalam diri sendiri. "Quiet Things I Never Said" lahir dari tempat itu. Cerita-cerita di dalamnya bukan tentang penyembuhan yang utuh atau akhir yang sempurna. Ia hanyalah kumpulan bisikan kecil dari jiwa-jiwa yang lelah, namun tetap memilih bertahan meski dunia tak selalu memberi alasan. Tentang mereka yang terlihat baik-baik saja di luar, padahal diam-diam sedang memikul perang yang tak pernah diketahui siapa pun. Dan mungkin, di antara halaman-halaman ini, ada bagian dari dirimu yang akan merasa dikenali. Cerita ini tidak datang membawa jawaban. Ia hanya ingin duduk di sampingmu sebentar- menemani hal-hal yang terlalu sunyi untuk diucapkan.
All Rights Reserved
#46
selfworth
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • ELION (bl)
  • Lysander Lowell De Villiers
  • desa kawitan [END]
  • LINTANG PANJER WENGI END
  • Secret Relationship
  • The Antagonis Hates Socializing [End]
  • ELIAN
  • Desa Jragat [End] [Revisi]

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines