Anjani Lestari meninggal di usia 30 tahun. Tiga puluh tahun hidupnya dihabiskan untuk bekerja, bertahan, dan tidak pernah meminta apa-apa pada siapa pun. Tapi rupanya, Tuhan punya rencana lain-dia terbangun di tubuh Nayla Azahra, mahasiswi 21 tahun yang kebalikannya. Petakilan. Tidak bisa diam. Cerewet. Anak orang kaya yang hidupnya diatur tanpa seizinnya. Dan satu hal yang tidak pernah Anjani bayangkan dalam hidupnya-pernikahan yang dijodohkan. Ravano Arya Pratama. 32 tahun. Pria yang senyumnya tidak pernah sampai ke matanya. Pria yang setiap kata-katanya terasa seperti pisau yang menempel di leher. Pria yang memandang Nayla-pandangannya seperti sedang mengukur seberapa jauh dia bisa patah. Anjani tahu, ini bukan cinta. Ini adalah perangkap. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Jiwa lamanya sudah mati. Tubuh barunya sudah terikat kontrak. Dan pria di depannya? Ya, Anjani tahu dia tidak pernah bermain adil. . . . . . "Kamu pikir kamu bisa lari, Nayla?" Bukan Nayla, batinku. Tapi kamu tidak akan pernah tahu.
More details