We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Crown of Shadows[END]

Crown of Shadows[END]

  • WpView
    Reads 2,571
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Aug 13, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Erotica
Suspense
Dark Romance
🔞🔞🔞 Aurelia Evangelin selalu membalut kelembutan dan kepolosannya dengan gaun berwarna putih suci. Sebagai Putri Penyihir yang kecantikannya melegenda, ia tidak peduli pada ambisi para pria dari berbagai klan yang memperebutkannya di pesta pencarian jodoh malam itu. Ia pikir ia bisa terus menjadi penonton yang tenang. ​Sampai ia tak sengaja menatap ke sudut tergelap ruangan. ​Di sana berdiri Lucius Blackwood, sang Raja Drakula yang paling ditakuti, berbalut pakaian serba hitam yang memancarkan aura mematikan. Sementara pria lain datang untuk merayu dan melamar, Lucius datang dengan tatapan tajam yang mengunci jiwa Aurelia-sebuah tatapan posesif yang tak kenal ampun. Bagi dunia, pria bertubuh tegap itu adalah monster berdarah dingin. Namun bagi Aurelia, dia adalah badai gairah yang datang untuk memonopoli seluruh kehidupannya. ​Sebuah obsesi gila telah lahir. Lucius tidak akan membiarkan siapa pun menatap wanitanya, meski ia harus meratakan seluruh klan untuk mengurung Aurelia dalam pelukan gelapnya. ​"Pakailah warna putih sesukamu. Tapi bayanganku yang akan selalu memeluk dan menyelimutimu. Kamu milikku, Aurelia. Hanya milikku."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Marked by the Dragon
  • Bukan Istri Sementara
  • The King {ON GOING}
  • Programmed to Please
  • Marriage Mr. Devil
  • Salah Transfer
  • [END] Be Indulged
  • That old man was so suspicious (SELESAI)
  • Entangled
  • A House Full Of Silince

Bagi Evelyn, satu kesalahan kecil sudah cukup untuk menghancurkan hidupnya yang tenang. Saat ia tak sengaja menggeser rak buku di ruang kerja dan menyentuh pintu rahasia di baliknya, sebuah suara retakan misterius terdengar. Ketakutan akan hal itu, Evelyn melarikan diri dan menghilang selama seminggu, berharap semua itu hanya halusinasi. Namun, kembali ke kantor dengan surat pengunduran diri bukan berarti masalah selesai. Saat ia melangkah masuk dengan tangan gemetar, ia menemukan Damian Adhitama sedang berdiri di depan jendela besar. Pria itu, yang biasanya hanya peduli pada angka dan kekuasaan, kini menggendong seorang bayi laki-laki mungil yang sangat tampan. Begitu mata bayi itu bertemu dengan milik Evelyn, suasana kantor yang kaku seketika mencair. Bayi itu tertawa kecil, suara tawanya yang bening memenuhi ruangan, dan tangan mungilnya menggapai-gapai ke arah Evelyn. Dengan binar mata yang begitu tulus dan penuh kasih, si kecil itu menggumamkan satu kata yang membuat jantung Evelyn seolah berhenti berdetak, "Ma... ma!" Senyum bayi itu begitu manis dan hangat, hingga Evelyn tanpa sadar mendekat dan mendekapnya. Namun, di balik kehangatan itu, tatapan Damian mengunci dirinya dengan aura yang jauh lebih gelap. *** "Argh... Damian, ini sakit sekali," rintih Evelyn dengan napas yang memburu. Damian Adhitama tidak menunjukkan belas kasihan dalam bentuk kata-kata. Ia mendekat, melepaskan kancing kemeja Evelyn satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. "Itu karena kau melawannya, Evelyn. Kau menahan apa yang seharusnya menjadi milik anak itu." Tangan Damian yang besar dan hangat kini merangkum kelembutan yang sedang menegang dan terasa keras itu. Evelyn tersentak, mencoba menarik diri, namun tatapan Damian mengunci pergerakannya. "Diam. Kalau kau terus melawan, ini akan semakin sakit," perintah Damian dengan suara rendah yang menggetarkan saraf.

More details
WpActionLinkContent Guidelines