Tiga Jiwa

Tiga Jiwa

  • WpView
    Reads 437
  • WpVote
    Votes 47
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 7, 2026
jiwa pertama yang di hilangkan karena manusia bodoh. jiwa kedua yang di hilangkan karena dianggap tidak pantas menerima apa yang sudah menjadi takdirnya. jiwa ketiga yang pergi mencari apa yang sudah menjadi takdirnya. (Cerita ini benar benar akan slow burn, karena ingin membuat imajinasi kalian semakin bagus dan tidak bingung dan juga tidak aneh)
All Rights Reserved
#423
family
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stahl und Seide | Boy's Love [End]
  • Benang takdir 2
  • Sendang Wengi - BL [End]
  • 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐝𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐤𝐞𝐥𝐚𝐬 𝟏𝟎𝐀
  • KETIBAN TAKDIR (BL LOKAL)
  • SARANG
  • Anak Wening
  • Renu Wening
  • Schemer | BL
  • Bandung Before Dawn (Mpreg)

Di tengah Perang Dunia yang berkecamuk, Letnan Konrad Weiss, seorang prajurit muda berusia 26 tahun, dikenal sebagai perwujudan disiplin dan ketegasan. Baginya, pertempuran adalah kewajiban, dan kelembutan adalah kemewahan yang tidak boleh dimiliki oleh seorang tentara. Namun, ketika ia terluka parah di garis depan, ia dikirim ke sebuah rumah sakit militer, tempat ia bertemu dengan seorang dokter bernama Dr. Elias Roth, seorang pria berusia 30 tahun yang memiliki tangan selembut sutra namun hati sekuat baja. Elias, yang sudah terlalu sering melihat nyawa melayang di medan perang, tidak memiliki kesabaran untuk pria-pria yang menganggap perang sebagai satu-satunya jalan hidup. Namun, ada sesuatu dalam diri Konrad yang membuatnya tak bisa berpaling-sesuatu di balik tatapan tajam dan sikap dinginnya yang membuat Elias ingin mengerti lebih dalam. Di antara luka yang belum sembuh dan pertempuran yang terus berkecamuk di luar sana, Konrad dan Elias mendapati diri mereka semakin terikat. Seiring waktu, perbedaan di antara mereka tidak lagi menjadi jurang pemisah, tetapi jembatan yang menghubungkan. Konrad, si baja yang keras dan tak tergoyahkan, perlahan belajar bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Sementara Elias, si sutra yang lembut namun penuh luka, menemukan bahwa terkadang, memiliki seseorang yang bisa diandalkan adalah satu-satunya hal yang membuat manusia tetap bertahan. Namun, perang tidak memberi ruang bagi cinta untuk berkembang. Ketika panggilan tugas kembali menggema dan perpisahan menjadi tak terhindarkan, mereka harus memilih-apakah mereka akan tunduk pada takdir, ataukah mereka akan melawan dunia untuk sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan: satu sama lain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines