Jodoh, Rantau dan Wisuda

Jodoh, Rantau dan Wisuda

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 3, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Slice of Life
Akad selesai. Riuh doa dan salam pecah di pelataran pondok, tapi telingaku mendadak tuli. Apakah menikah atas pilihan sang kiyai itu menjadi takdir nya saat ini? Mataku masih tertempel di punggung dia. Lelaki yang selama ini kusimpan nama berbalut perasaan itu diam-diam. Hari ini dia memakai baju yang sama dengan lelaki di samping nya; kemeja putih. Kemeja yang akan di pakai untuk melakukan ijab qobul hari ini. Bukan untukku, malainkan untuk wanita yang berdiri si sebelahku. "Ya sudah," gumamku pelan. Aku terima, aku harus terima. Menangis? Itu tak ada gunanya. Tanganku digandeng Mita; teman sekamar, yang hari ini juga sah jadi pengantin. Kami berdua menyelinap masuk ke dalam, mau melepas kerudung yang mulai pengap. Baru tiga langkah, ada sentuhan di bahu. Pelan. Hati-hati. "salsa." Suara itu.. Lembut. Bukan suara dia yang lagi ku tatap dari kejauhan. Aku menoleh. Dia berdiri di sana;Suamiku. Yang baru saja mengucap ijab kabul bersamaku lima menit lalu. Wajahnya datar, tak banyak ekspresi. Tapi matanya... entah kenapa bikin lututku gemetar. Sebungkus amplop putih disodorkan. "Ini hak kamu," katanya pelan. Tidak banyak, tidak seperti pernikahan yang sudah di rencanakan. Mahar seadanya. Jariku gemetar menerima. Uang hasil per nikahan kita. Uang yang halal, tapi rasanya kayak pegang bara. Lalu tangannya terulur. Telapaknya menghadap ke atas, isyarat minta disalami. Aku ragu sedetik, lalu kuletakkan tanganku di atasnya. Dingin. Dan sebelum aku sempat menarik napas - Mendarat. Satu kecupan di keningku. Cepat, tapi cukup buat seluruh tubuhku panas. Aku belum selesai kaget, bibirnya sudah mendekat ke telingaku. Nafasnya hangat. "Tunggu aku. Jangan pulang dulu." Lalu dia pergi. Meninggalkanku mematung di lorong pondok, dengan amplop di tangan, dan detak jantung tak kunjung tenang.
All Rights Reserved
#266
rantau
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kembang Desa
  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Usai menjalani pendidikan strata 1 di Ibu Kota, Adara Ruby Sanjaya (22), gadis centil nan cantik yang sering dipanggil dengan sebutan Dara diminta kembali oleh orang tuanya yang berada di desa. Menuruti adalah jalan terakhir yang harus di lakukan Dara. Dara pikir pulang ke kampung halamannya adalah pilihan yang sangat buruk, tetapi disana ia menemukan sesuatu yang sayang untuk dilewatkan. ~~~ Menjadi harapan satu-satu orang tua yang harus terjun ke dunia perdagangan, adalah takdir Biantara Pradikta (32), Bian yang merupakan anak laki-laki dari juragan tersohor se Kecamatan. Mempunyai adik perempuan yang masih berada di bangku menengah keatas, itulah alasan Bian tidak melanjutkan pendidikan paska lulus SMA. Memiliki sifat yang cuek dan tidak terlalu memikirkan tentang perempuan, padahal ibunya sering menyodorkan anak temannya untuk ia kencani, tetapi ia acuh tak acuh dengan itu. Sampai hadir seorang gadis jelita yang merupakan anak dari pengusaha beras di desanya, gadis yang menjadi buah bibir para tetangga, bukan hanya prestasi yang jarang orang dapat dikehidupan mereka, tetapi juga parasnya yang membuat para tetangga rela menyodorkan anak lelakinya pada gadis itu. Tetapi, mengapa Bian tidak menyukai itu! Cerita keseharian gadis incaran para pria dan calon menantu idaman ibu-ibu desa.

More details
WpActionLinkContent Guidelines