Di Puncak Dunia Aku Menang

Di Puncak Dunia Aku Menang

  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2026
Dulu, aku mati mengenaskan di tangan orang yang paling kucintai - dikhianati, dibohongi, dan dibunuh hanya karena bisikan orang lain. Arkan Pradipta, laki-laki yang pernah kuberikan seluruh jiwaku, ternyata adalah pembunuhku sendiri. Dan Naira, teman masa kecilnya, adalah racun perlahan yang merusak segalanya dalam hidupku. Namun, takdir ternyata masih berpihak padaku. Aku kembali ke masa lalu, tepat saat aku masih berusia delapan belas tahun, saat segala kekacauan itu belum sempat terjadi. Kali ini, Amara Adhistara yang dulu sudah mati di gudang itu. Yang berdiri dan hidup sekarang hanyalah aku - wanita yang dingin, cerdas, tajam, dan bertekad kuat untuk berada di posisi tertinggi. Cinta? Itu hanyalah kebodohan masa lalu yang tak akan kuulangi. Sekarang, tujuanku hanya satu: bangkit, sukses besar, menaklukkan dunia, dan membuktikan pada semuanya... Di Puncak Dunia, Akulah Pemenangnya.
All Rights Reserved
#26
kisahcinta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines