Ini adalah potret tentang sekelompok remaja yang tumbuh di tengah masyarakat mayoritas yang sibuk menghakimi, namun abai mengobati luka. Mereka adalah anak-anak muda yang sebenarnya memiliki segalanya-fasilitas, wajah, bahkan kasih sayang yang cukup dari orang tua-namun hidupnya pelan-pelan bergeser ke arah penyimpangan yang nyata.
Di dalam lingkaran ini, mereka membagi perannya masing-masing dalam menghadapi sepi. Ada yang memilih hidup sebagai sarang penyangkal, bersembunyi di balik aksi diam karena takut kebahagiaannya habis dalam sedetik. Ada yang memilih menjadi penikmat, menertawakan kerasnya dunia dengan humor-humor satir yang bengis.
Dan ada yang menjelma menjadi "kiblat" kesempurnaan di lingkungan universitas maupun sekolah, berprestasi di mading dan brosur komersial, namun jiwanya cacat total dan bertingkah kurang ajar di dalam rumahnya sendiri.
Cerita ini menyinggung realitas pahit yang sedang marak terjadi di sekitar kita hari ini. Tentang anak-anak sekolah, mahasiswa, dan dunia pendidikan yang tampak megah dari luar, namun keropos di dalam.
Fenomena tentang remaja-remaja kesepian yang membawa trauma masa kecil mereka ke dalam hubungan yang toksik, cacat logika, dan penuh pemberontakan moral kepada keluarga.
Ini adalah sebuah perjalanan etis yang abu-abu. Sebuah persimpangan jalan di mana batas antara kebaikan yang dipaksakan dan keburukan yang dinikmati menjadi sangat kabur.
Menonton mereka bukan lagi sekadar membaca cerita fiksi, melainkan melihat cermin retak dari generasi kita hari ini yang haus akan pembelaan atas setiap penyimpangan yang mereka lakukan
NOTE / WARNING:
•Slow-burn psychological drama.
•Sarat dengan konflik batin, isu kasta sosial, dan dinamika hubungan yang rumit (avoidant vs anxious).
•Fokus pada perjalanan persahabatan, musik, dan penolakan terhadap kenyataan.
All Rights Reserved