Bagimu, aku adalah tempat pelarian yang nyaman, seseorang yang bisa kau ajak bicara di antara kesibukan rapat OSIS yang tak berujung atau saat kau lelah mengejar prestasi yang membuat semua orang menatapmu kagum.
Aku tahu betapa kerasnya kau bekerja, aku tahu cara kopi yang kau suka.
Aku satu-satunya yang tahu bahwa di balik topeng dinginmu itu, kau sebenarnya punya kecemasan yang kau sembunyikan rapat-rapat.
Namun, kau tidak tahu satu hal tentang yang aku mencintaimu.
Aku mencintai setiap detail kecil tentangmu. Sayangnya, cintaku hanyalah gema di ruang kosong.
Kau tidak pernah melihatku sebagai sosok yang bisa kau cintai, kau hanya melihatku sebagai pendengar setia yang selalu ada kapan pun kau butuhkan.
Dan yang paling menyesakkan adalah saat dunia nyata harus kembali kujalani, Saat kau datang padaku, bukan untuk meminta kasih, tapi untuk bercerita tentang kekasihmu.
Aku harus menjadi teman yang suportif saat melihatmu bermesraan dengannya, menahan napas saat kau memamerkan senyum yang tak pernah benar-benar kau tujukan padaku.
Ada rasa perih yang menjalar di dada setiap kali aku harus berpura-pura tidak peduli, Aku menelan luka itu bulat-bulat, menyimpannya di balik senyum tipis, dan tetap berada di posisiku sebagai teman yang siap sedia.
Karena bagiku, berada di dekatmu sebagai seorang teman jauh lebih baik daripada kehilanganmu sama sekali, meskipun itu berarti aku harus membiarkan hatiku perlahan-lahan hancur karena mencintai seseorang yang hatinya milik orang lain.
All Rights Reserved