baby, it's not rocket science

baby, it's not rocket science

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 13, 2026
"Dia Langit." Gadis itu mengangguk mengiakan. "Lo Bumi." Ia mengangguk lagi. "Nggak bakalan pernah nyatu," jelasnya frustrasi. Kali ini, Bumi merenung. Mungkin Yudha benar. "Jadi, balik sama gue aja, ya, Mi?" Bumi tertegun, seakan-akan seseorang baru saja mengatakan bahwa pakaian itu sebenarnya masalah manusia hari ini, kini matanya menatap Yudha dengan tatapan tidak percaya. "Bentar, bentar." Ia mengangkat tangannya. "Kesimpulan lo salah banget ini." "Hah? Kata dosen udah bener." Tubuh Yudha terkesiap. Bumi memutar bola matanya. "Gue bukan dosen lo. Pernyataan lo, soal gue dan Langit itu, tuh, kesimpulannya salah." *** Langit butuh alat bantu mendengar, Bumi butuh alat untuk menghalau suara, telinganya terlalu sensitif. Langit suka warna-warni, menurut Bumi, warna itu overrated; ia bisa hidup dengan warna hitam dan merah. Langit langsung kerja, Bumi kuliah dulu. Langit tidak peduli, Bumi baru saja putus. Langit suka mesin, Bumi suka tubuh manusia, hanya organnya saja. Langit suka manusia, Bumi benci manusia. Begitu saja. Ini bukan rocket science. Yang ribet itu manusia, tetapi indahnya di sana.
All Rights Reserved
#2
society
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Imperfect Señorita
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Kesempatan Kedua Heraya
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • NINGRUM
  • Almost Married (END)
  • Silent Traces by the Sea
  • Mr. CEO, Stop Being My Enemy! (END)
  • Beautiful Pain
  • HIS LILY HIS LIES

"Temani Saya" 2 kata yang selalu terucap setiap 3 kali dalam seminggu dan selalu tetap seperti robot yang telah mendapatkan pemrograman. Tak ada cinta bagi Axel, dirinya hanya berlindung dalam kalimat "Saya hanya menyukai tubuhmu". "Kita fasih mendesah dalam gelap, tetapi bisu soal cinta dalam terang. Dan cemburu adalah satu-satunya bahasa jujur yang akhirnya berani kita ucapkan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines