"Dia Langit."
Gadis itu mengangguk mengiakan.
"Lo Bumi."
Ia mengangguk lagi.
"Nggak bakalan pernah nyatu," jelasnya frustrasi.
Kali ini, Bumi merenung. Mungkin Yudha benar.
"Jadi, balik sama gue aja, ya, Mi?"
Bumi tertegun, seakan-akan seseorang baru saja mengatakan bahwa pakaian itu sebenarnya masalah manusia hari ini, kini matanya menatap Yudha dengan tatapan tidak percaya.
"Bentar, bentar." Ia mengangkat tangannya. "Kesimpulan lo salah banget ini."
"Hah? Kata dosen udah bener." Tubuh Yudha terkesiap.
Bumi memutar bola matanya. "Gue bukan dosen lo. Pernyataan lo, soal gue dan Langit itu, tuh, kesimpulannya salah."
***
Langit butuh alat bantu mendengar, Bumi butuh alat untuk menghalau suara, telinganya terlalu sensitif.
Langit suka warna-warni, menurut Bumi, warna itu overrated; ia bisa hidup dengan warna hitam dan merah.
Langit langsung kerja, Bumi kuliah dulu.
Langit tidak peduli, Bumi baru saja putus.
Langit suka mesin, Bumi suka tubuh manusia, hanya organnya saja.
Langit suka manusia, Bumi benci manusia.
Begitu saja. Ini bukan rocket science. Yang ribet itu manusia, tetapi indahnya di sana.
All Rights Reserved