Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Neira Atma Dinya hanya ingin menjadi gadis biasa. Namun, terlahir sebagai anak tengah di keluarga keturunan keraton yang dihormati membuat kebebasannya menjelajahi galeri seni hanya sekadar mimpi. Di bawah bayang-bayang titah Eyang Gayatri-sang mantan penari sakral keraton yang memegang kendali penuh tradisi keluarga-Neira dipaksa menukar kuas lukisnya dengan buku tatakrama, wejangan pernikahan, dan tuntutan masa depan yang tidak pernah ia minta.
Setelah Mas Dikta, kakak sulungnya, pergi meninggalkan rumah pasca-perjodohan, kini giliran Neira yang harus menyenangkan hati sang Eyang. Tanpa pernah diperkenalkan, tanpa pernah melihat wajahnya, Neira mendapati dirinya sudah dibalut kebaya pengantin, bersiap menikah dengan seorang pria asing dalam hitungan jam.
Di depan meja akad, barulah Neira pertama kali bersitatap dengan suaminya: Manggala Bhava Wirasana.
Manggala adalah definisi dari kedisiplinan yang mengintimidasi. Putra sulung dari keluarga militer terpandang, bertubuh tegap lebih dari 185 cm, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang sulit dibaca. Dia adalah kakak tingkat Neira di kampus, seorang mahasiswa hukum cerdas yang digadang-gadang akan menjadi pengacara hebat. Dia tampan, sangat sopan, namun begitu hemat bicara.
Di antara kecanggungan hidup di bawah satu atap dan dinginnya sikap Manggala, kepala Neira dipenuhi oleh tanya yang tak berkesudahan. Kenapa pria sehebat Manggala mau repot-repot menurut dan menikahinya? Kenapa dia tidak menolak? Rahasia apa yang disembunyikan pria itu di balik kepatuhannya pada tradisi?
Bersama Manggala, Neira harus berjalan menyusuri labirin pernikahan dini yang asing. Di antara aroma dupa tradisi dan tegasnya dunia hukum modern, Neira akan mencari jawaban: apakah pernikahan ini adalah akhir dari kebebasannya, ataukah Eyang Gayatri benar-benar membuktikan ucapannya bahwa Manggala adalah jodoh terbaik yang dikirimkan alam untuknya?
All Rights Reserved