Amaya dan Freig nggak pernah ketemu langsung. Amaya di Bandung, Freig di Jogja. Tapi mereka memilih buat saling dekat, lewat obrolan panjang yang kadang seru, kadang berat.
Amaya pintar banget, terlalu pintar. Otaknya jalan terus, menganalisis segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Dia tumbuh tanpa sosok ayah, jadi dia terbiasa mengandalkan logika, bukan perasaan.
Freig beda. Dia idealis, jujur, dan ingin jadi filsuf. Tapi di balik semangatnya, ada luka lama: kehilangan kakak dan ayahnya. Dia bipolar. Kadang bersemangat membara, kadang jatuh tanpa bisa dia sendiri menghentikannya.
Mereka saling sayang. Tapi Amaya takut. Takut hubungan ini hancur karena mood Freig yang naik turun, takut karena overthinking-nya sendiri, takut karena kondisi ekonomi mereka berbeda, dan masa depan terasa nggak jelas.
Tapi di tengah semua ketakutan itu, mereka sadar satu hal: kehadiran masing-masing bukan untuk saling melukai. Tapi jadi cermin. Untuk saling melihat luka, lalu perlahan mengerti. Bukan menyembuhkan, tapi menemani.
Kisah ini tentang dua anak muda yang nggak sempurna. Tentang cinta yang nggak selalu romantis, tapi jujur. Tentang berani bertahan meski logika bilang "mundur aja."
All Rights Reserved