Angkara berdiri, mendekat dari belakang. Bau tanah basah mulai menyebar di ruangan. "Vina... kamu tahu kenapa aku memilihmu?"
Tangan Angkara menyentuh bahu Vina, lalu turun pelan ke dada. Vina menggigil tapi tidak menolak. "Pak... ini kantor..."
"Di sini aku raja," bisik Angkara di telinganya sambil meremas payudara Vina dari luar blus. Putingnya langsung mengeras. Ia membuka kancing blus satu per satu, membiarkan bra hitam lace terlihat. Angkara menurunkan bra itu, menghisap puting kiri Vina dengan rakus, gigit pelan, lalu kuat hingga Vina mendesah keras.
Vina berlutut dengan sukarela. Ia membuka celana Angkara, mengeluarkan kejantanannya yang sudah tegang penuh dengan urat hitam gelap. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas, lalu mengulum kepalanya dalam-dalam. Angkara memegang rambutnya, mendorong hingga Vina tersedak, air liur menetes ke lantai.
"Bagus... hisap lebih dalam," perintah Angkara sambil tertawa pelan.
Setelah cukup, ia mengangkat Vina ke meja kerjanya, membuka kakinya lebar, menarik celana dalamnya ke samping, dan langsung menyetubuhinya dengan hantaman kuat. Meja bergoyang hebat. Vina menjerit nikmat, kakinya melingkar di pinggang Angkara.
"Lebih cepat, Pak! Ahh... saya mau keluar!" erang Vina.
Angkara mempercepat irama, tangan kanannya meremas klitoris Vina sambil terus menghujam. Vina orgasme hebat, tubuhnya kejang, cairan menyembur membasahi paha Angkara. Angkara tidak berhenti. Ia membalik Vina jadi doggy style, memegang rambutnya seperti kendali kuda, dan menyetubuhinya brutal dari belakang.
Di tengah klimaks kedua Vina, wajah Angkara berubah di cermin dinding-menjadi sosok ibunya yang busuk. Vina menjerit ketakutan, tapi pinggulnya masih mendorong ke belakang minta lebih. Angkara menyelesaikan di dalamnya sambil mencekik leher ramping Vina hingga mati.
Mayat Vina ia simpan di lemari pendingin khusus di ruang bawah tanah kantor, bersama mayat-mayat lain yang masih "segar".
All Rights Reserved