Ia tumbuh di rumah yang tak pernah benar-benar terasa utuh.
Besar di tengah bisik-bisik tentang ibunya dan masa lalu yang selalu terdengar lebih tajam ketika keluar dari mulut orang lain.
Perlahan, rumah itu mulai berubah. Ada tatapan yang tinggal terlalu lama. Ada rasa tidak aman yang tumbuh tanpa suara. Sejak saat itu, hidup terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca dengan kaki telanjang, di mana setiap langkah selalu menyimpan kemungkinan untuk terluka.
Lalu seseorang datang.
Ia hadir melalui hal-hal kecil yang perlahan mengajarkannya bahwa tidak semua sentuhan harus membuat bahu menegang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai percaya bahwa dunia tidak selalu datang hanya untuk melukainya.
Ironisnya, kehangatan itu hanya singgah sesaat.
Pengkhianatan itu tidak datang dari orang asing. Bukan dari seseorang yang tak ia kenal, bukan pula dari tangan yang sejak awal sudah terasa dingin. Luka itu datang dari tempat yang paling tidak ia duga, dari seseorang yang pernah ia anggap sebagai rumah.
Saat itulah ia memahami bahwa luka yang diberikan orang asing tidak pernah sedalam luka dari seseorang yang mengenalnya dengan baik. Seseorang yang tahu persis di mana letak bagian paling rapuh dalam dirinya, lalu tetap memilih meremasnya dengan cara yang paling menyakitkan.
⚠️⚠️⚠️
Cerita ini murni fiksi. Mohon bijak dalam membaca dan tidak membawanya ke dunia nyata, baik di media sosial maupun ke ruang lain di luar cerita ini. Biarkan semua karakternya tetap hidup di dalam cerita ini saja.
Adapun karakter di dalam cerita ini yang saya representasikan sebagai laki-laki, biarkan perannya tetap di sini. Jangan menariknya keluar. Di dunia nyata, biarkan mereka tetap menjadi diri mereka sendiri, hidup sebagaimana mestinya, dan dihormati sebagai perempuan seutuhnya.
Terima kasih atas pengertian dan kebijaksanaannya.
Selamat membaca.
All Rights Reserved