Di sudut kamar usang tahun 2018, jemariku pernah merangkai sebuah draf cerita fiksi tentang dia-Fathur Al-Ardh. Seseorang yang matanya menenangkan, yang sosoknya diam-diam mencuri seluruh perhatianku. Cerita itu selesai dengan akhir yang manis, namun bukunya hilang entah ke mana. Aku mengira kisah itu ikut terkubur bersama hilangnya draf tersebut.
Tahun 2019 hingga 2022, takdir membawa kami ke jalan yang berbeda. Aku mendekap duniaku di sebuah pondok pesantren di daerahku, sementara dia menyeberang jauh ke luar kota untuk menuntut ilmu. Kami terpisah jarak, terikat aturan, dan tak pernah lagi bertukar pandang. Namun diam-diam, aku mulai menulis cerpen baru tentangnya. Menata rindu yang tak bertuan lewat aksara.
Siapa yang menyangka, bertahun-tahun kemudian, setelah gerbang pondok kami tinggalkan, semesta seolah menemukan kembali draf yang hilang itu. Bab demi bab yang pernah kutulis, tiba-tiba dihidupkan nyata oleh semesta. Lewat misi foto amatir malam Maulid yang gagal, aksi gengsi menolak bantuan kompor besar di acara nikahan, hingga puncaknya... tatapan magis dari atas mobil pick-up.
Sebab aksara terbaik adalah yang melangitkan rindu, dan membumikan rasa.
Ini bukan sekadar cerita fiksi. Ini adalah perjalanan bagaimana takdir membaca ulang garis hidup antara Sang Aksara dan Bumi.
All Rights Reserved