Hujan Yang Menunggu Musim

Hujan Yang Menunggu Musim

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 8, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Social Themes
Culture and Identity
Laras tumbuh dengan satu nama yang diam-diam menetap di hatinya: Arsen. Dari bangku SMP hingga dipertemukan kembali di masa SMK, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Namun tidak semua yang diperjuangkan hati dapat dimiliki oleh takdir. Kehilangan datang ketika Laras masih terlalu muda untuk memahaminya. Waktu terus berjalan, membawa dirinya pada kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya-cinta, pernikahan, luka, dan tanggung jawab sebagai seorang ibu. Di tengah semua yang berubah, Laras tetap menyimpan kenangan yang tidak pernah selesai. Karena terkadang seseorang bukan hadir untuk dimiliki, melainkan untuk mengajarkan arti mencintai dengan tulus. Sebuah kisah tentang cinta pertama, kehilangan, ketabahan, dan perjalanan seorang perempuan menemukan dirinya kembali setelah badai panjang dalam hidupnya. Sebab seperti hujan yang menunggu musim, ada perasaan yang tetap bertahan meski waktu terus berlalu.
All Rights Reserved
#32
laras
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines