Adam adalah pemanah terbaik yang tak pernah menyangka bahwa panggung terbesarnya bukanlah lapangan nasional, tetapi ruang ICU sebuah rumah sakit.
Sejak kecil, busur dan anak panah adalah satu-satunya bahasa yang ia pahami. Diam, fokus, dan lepaskan,itulah hidupnya. Hingga suatu hari, nama Adam melambung ia dipanggil memperkuat tim memanah kebangsaan. Mimpi yang selama ini ia bina dengan keringat dan hening malam, akhirnya menganga di depan mata.
Tapi suratan berkata lain.
Semalam sebelum pertandingan paling bersejarah dalam hidupnya, Adam terhempas di jalan raya. Mobil ringsek. Tulang tangan kanannya retak. Doktor memberikan vonis yang lebih kejam dari kekalahan apa pun "Kau tak akan pernah memegang busur lagi."
Dunia Adam runtuh. Tangan yang dulu stabil menarik tali busur, kini gemetar memegang sudu. Dari atlet nasional, ia kembali menjadi mahasiswa sunyi yang duduk di sudut kampus, sengaja menyendiri, membiarkan luka hatinya bernanah lebih dalam daripada luka fizikalnya.
Namun takdir punya cara jahat sekaligus indah untuk menyembuhkan seseorang.
Suatu hari, hujan turun deras. Adam berlindung di bawah atap fakultas seni. Di sana, untuk pertama kalinya, ia melihat Emily gadis berambut ikal yang tersenyum sambil melukis pelangi walau langit kelabu. Emily tidak hanya cantik. Ada cahaya aneh dalam matanya, cahaya yang membuat Adam, si pemanah yang kehilangan sasarannya, ingin sekali lagi membidik sesuatu hatinya.
Sayangnya, Emily adalah bintang kampus yang dikelilingi puluhan pemuja. Sementara Adam, hanyalah lelaki pendiam dengan tangan yang tercedera dan hati yang terlalu rapuh untuk memulai perlombaan yang sudah kalah sebelum dimulai.
Mampukah Adam melawan rasa takutnya? Dapat beliau memanah hati Emily dengan sisa-sisa keberanian yang tersisa? Atau justru kisah cinta ini yang memanah hatinya kembali hidup tanpa busur, tanpa sasaran, hanya dua insan yang saling menemukan di antara puing-puing mimpi yang hancur?
All Rights Reserved