Aku tidak pernah membayangkan bahwa cinta yang telah kurawat selama bertahun-tahun akan berakhir menjadi penyesalan. Bersama laki-laki itu, aku pernah membangun banyak mimpi. Kami membicarakan masa depan, rumah sederhana yang hangat, dan kehidupan yang akan mereka jalani bersama. Bagiku, seseorang itu bukan sekadar kekasih. Tapi sudah menjadi bagian hidup dan rumah, tempat pulang, dan alasan untuk percaya bahwa hidup bisa bertahan.
Namun hidup memiliki rencana yang berbeda. Perpisahan yang terjadi perlahan memaksa kita melepaskan satu sama lain. Tidak ada kepastian dan pergi tanpa alasan. Ada banyak kebencian. Hanya saja kita tidak lagi berjalan ke arah yang sama. Aku mencoba melanjutkan hidupku dengan berani. Belajar berdamai dengan kehilangan, menata kembali mimpi, dan meyakinkan diriku bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya. Sampai suatu hari sebuah pesan singkat sial terkirim untukku. Dikirimkannya undangan pernikahan.
Di atas kertas putih gading itu tertulis nama yang pernah menjadi impian masa depannya: Bayu Pratama & Naya Indah Asih.
Dalam satu malam, luka yang selama ini ia pikir telah sembuh kembali terbuka. Kenanga harus menghadapi kenyataan bahwa laki-laki yang pernah berjanji akan menggenggam tangannya di pelaminan kini akan mengucapkan janji yang sama kepada perempuan lain.
Di tengah rasa kehilangan, Kenanga menemukan perjalanan yang jauh lebih besar daripada sekadar melupakan mantan kekasih. Ia belajar bahwa melepaskan bukan berarti berhenti mencintai. Kadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Todos os Direitos Reservados