Allysa pernah menjadi seseorang yang jauh dari kata baik. Kata-katanya kasar, sikapnya sembrono, dan perasaannya sering melukai. Bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Pada masa itu ia tidak merasa bersalah. Hidup berjalan seperti biasa, dan Allysa merasa bebas tanpa batas. Hingga suatu hari, dalam sunyi yang panjang dan layar ponsel yang terus ia gulir, ia menemukan sesuatu yang perlahan mengubah cara pandangnya. Tentang Tuhan. Tentang dirinya sendiri. Tentang batas antara perasaan dan iman. Sejak saat itu Allysa mulai belajar membatasi. Bukan karena ia tidak mampu mencinta, melainkan karena ia takut kehilangan arah. Namun ternyata, membatasi pun bisa meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat, yang menetap diam di dalam hati tanpa pernah meminta izin. Dan di antara semua yang ia pelajari, semua yang ia lepaskan, semua yang ia coba lupakan dan gagal, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi. Sebuah nama. Yang pertama kali singgah tanpa peringatan, yang ia jaga dalam diam lebih lama dari yang pernah ia akui, yang bahkan di penghujung cerita ini pun masih tinggal di sudut hatinya yang paling sunyi. Diary ini tidak ditulis untuk membenarkan masa lalu Allysa. Bukan pula untuk menyesali semuanya. Diary ini hanya menjadi tempat bagi Allysa untuk menyimpan kisah tentang perubahan, tentang perasaan yang harus direlakan, tentang doa-doa yang ia panjatkan di malam hari meskipun tidak semua berakhir seperti yang ia harapkan. Dan tentang belajar bahwa mencintai dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika tidak ada yang memintamu untuk itu, adalah salah satu hal paling berani yang pernah dilakukan seseorang. Inilah kisah dari sebuah catatan yang sederhana. Inilah Diary Allysa.
Plus d’Infos