Hujan deras membasahi kota Jakarta sore itu. Di sebuah gedung pengadilan agama yang megah namun sunyi, duduk dua orang remaja yang seharusnya sedang sibuk dengan tugas sekolah atau bermain game.
Aira, gadis berambut panjang dengan seragam SMA yang masih dikenakannya, menatap lurus ke depan. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, malu, dan bingung. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda dengan wajah datar, tampan namun dingin. Tangannya yang besar terulur untuk mengambil buku nikah yang baru saja ditandatangani.
"Selamat, kalian resmi menjadi suami istri," ucap penghulu dengan senyum ramah.
Aira menelan ludah. Ia baru berusia 17 tahun. Dan pria di sebelahnya... pria yang kini resmi menjadi suaminya, adalah seseorang yang bahkan jarang ia ajak bicara di sekolah.
"Arka..." panggil Aira pelan.
Pemuda itu menoleh, tatapannya tajam namun tak bisa disembunyikan sedikit rasa lelah. "Jangan bicara banyak di sini. Ingat perjanjian kita. Ini rahasia negara. Tidak ada seorang pun, teman sekelas, guru, atau siapapun yang boleh tahu."
Aira mengangguk kaku. Ya, perjanjian itu. Mereka menikah karena keadaan terpaksa, demi menyelamatkan nama baik kedua keluarga dan karena permintaan kakek Arka yang sedang sakit keras. Namun, dunia sekolah adalah dunia yang berbeda. Di sana, mereka harus berpura-pura menjadi dua orang asing.
Atau lebih tepatnya... berpura-pura menjadi teman sekelas biasa.
All Rights Reserved