Selepas Hujan Reda (A.ka Lintang)

Selepas Hujan Reda (A.ka Lintang)

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 3, 2026
Selepas Hujan Reda(A.ka Lintang) **** Ada orang-orang yang berjalan bukan karena tahu ke mana tujuan mereka, melainkan karena tidak tahu harus berhenti di mana. Rea Azzairin adalah salah satunya. Ia menghabiskan hari-harinya ditemani buku, hujan, dan kesunyian yang perlahan menjadi rumah. Sampai akhirnya takdir mempertemukannya dengan seseorang yang selama ini hanya hidup di balik lembaran-lembaran novel favoritnya. Seseorang yang mengajarkannya bahwa dirinya layak dicintai. Bahwa ketakutan tidak harus selalu dimenangkan. Dan bahwa rumah bukan selalu tentang tempat, melainkan tentang seseorang yang membuatmu ingin pulang. "Selepas Hujan Reda" adalah kisah tentang dua orang yang sama-sama belajar bertahan, menemukan keberanian, dan saling menjadi alasan untuk melangkah. Karena terkadang, setelah hujan reda, yang datang bukan hanya pelangi. Melainkan seseorang yang selama ini diam-diam berjalan menuju arah yang sama.
All Rights Reserved
#806
buku
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines