PROLOG
Katanya, otak manusia adalah pelukis yang paling keras kepala. Ia menolak menghapus garis-garis usang yang sengaja kita tinggalkan bertahun-tahun lalu.
Semalam, dia datang lagi. Bukan sebagai siluet kabur tanpa nama, melainkan dengan wajah yang begitu jelas. Lengkap dengan senyuman yang terputus di tengah lapang sekolah, dan sebaris kalimat asing yang memicu badai di dada. Aku terbangun dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat, terjebak di antara dua kenyataan semu: sebuah penolakan yang paling kutakuti, dan sebuah harapan yang terhalang jarak.
Namanya Cika. Seseorang dari masa lalu yang pergi tanpa pamit, meninggalkan sebuah sketsa hubungan yang patah di tengah jalan. Dan hari ini, dengan jempol yang bergetar di atas layar ponsel, aku dihadapkan pada satu pilihan: membiarkan gambar itu usang selamanya, atau memberanikan diri untuk menggoreskan warna terakhirnya."
Todos os Direitos Reservados