Tumbuh dalam retak [ END ]

Tumbuh dalam retak [ END ]

  • WpView
    Membaca 7,428
  • WpVote
    Vote 1,334
  • WpPart
    Bab 45
WpMetadataReadLengkap Min, Agt 30, 2026
WpInfo
Fiksi Penggemar
Enhypen
Menjadi sulung dari enam bersaudara memaksa anak pertama memikul tanggung jawab berat yang tak pernah ia inginkan. Menjadi sosok orang tua pelindung saat keutuhan keluarga mereka mulai hancur. Namun, di tengah badai konflik dan keputusasaan yang melanda, sebuah ujian baru datang ketika si bungsu jatuh sakit parah, memaksa takdir mereka berubah selamanya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#446
enhypen
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Happiness (Jasuke)
  • Brother's S2 (ON GOING)
  • 𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡, 𝐊𝐚𝐤 | 𝐏𝐚𝐫𝐤 𝐉𝐨𝐧𝐠𝐬𝐞𝐨𝐧𝐠 𝐟𝐭. Maknae Line
  • Hadiah Terbaik
  • The roof is bleeding
  • Bangun Tanpa Pelukan || NCT WISH
  • kenapa selalu aku
  • 𝓓𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰 𝓣𝓮𝓻𝓵𝓪𝓶𝓫𝓪𝓽 ! ni-ki
  • kembali ke rumah [Evan Jay Jake]
  • Brother S1 (REVISI)

"Kapan lo maafin gue ... Sevan?" Jiro menatap Sevan dengan sorot mata penuh penyesalan. Ia mencoba melangkah mendekatinya. Sevan menatapnya dingin. "Setelah Bang Jiga bisa jalan lagi." Setelah mengatakan itu, Sevan berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Jiro berdiri sendirian di tengah derasnya hujan. Jiro menundukkan kepala. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menyembunyikan air mata yang bercampur dengan tetesan hujan. Namun, rasa bersalah yang selama ini ia pendam tetap terasa begitu menyesakkan. "Gue juga nggak mau semua ini terjadi, Sevan ... " seru Jiro dengan suara bergetar. Sevan menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh. "Gue nggak mau Bang Jiga jadi kayak gini ... " lanjut Jiro. "Gue benci kenyataan ini. Gue benci lihat Bang Jiga nggak bisa jalan lagi. Gue benci lihat lo menjauh dari gue." Suaranya semakin lirih di akhir kalimat, seolah tenaganya habis bersama hujan yang mengguyur tubuhnya. "Gue benci semuanya, Sevan ... " Namun Sevan tetap diam. Tak ada jawaban. Tak ada tatapan. Tak ada pengampunan. Hanya suara hujan yang jatuh di antara mereka, seakan menjadi batas yang tak lagi bisa dilewati oleh Jiro.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan